Minggu, 16 Juni 2013

Sekenario Konseling (BK Pribadi)


Tama adalah seorang siswa kelas XII SMA, dia memiliki seorang pacar yang satu sekolah dengannya. Suatu hari Tama mengajak pacarnya ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Namun ternyata setelah Ayahnya bertemu dengan pacar Tama, Ayahnya tidak suka terhadap pacar Tama bahkan saat itu juga Ayah Tama memarahi Tama di depan pacarnya dan mengatakan bahwa Ayahnya tidak suka pada pacar Tama. Hal ini membuat pacar Tama menjauhi Tama. Tama bingung dengan sikap pacarnya yang tiba-tiba berubah. Karena masalah tersebut akhirnya Tama memutuskan untu meemui guru BK-nya saat jam istirahat.
Konseli            : Assalamu’alaikum Wr. Wb
Konselor          : Wa’alikumsalam wr. Wb
Oh…. Ada mas Tama…. Silahkan masuk…. Silahkan duduk
Konseli            : Iya Bu terima kasih
Konselor          : Bagaimana kabar Bapak dan ibu ?
Konseli            : Alhamdulillah sehat Bu !
Konselor          : Tampaknya ada sesuatu yang akan mas Tama ceritakan kepada saya?
Konseli            : iya Bu, tapi saya hanya memiliki waktu 30 menit Bu, karena
     pada jam 09.00 saya ada ulangan matematika.
Konselor          : ”Kalau demikian, marilah kita manfaatkan waktu selama 30 menit
 ini dengan sebaik-baiknya”
Konseli            : Saya benci dan marah dengan pacar saya Bu.
Konselor          : coba mas tama jelaskan secara rinci, tentang perasaan benci dan
 marah yang mas Tama alami
Konseli            : Gimana tidak marah ya Bu…. waktu itu saya meminta pacar saya itu untuk menemui orang tua saya, akan tetapi dia menolaknya, hal itulah yang membuat saya menjadi benci dan marah dengan dia.
Konselor          : Saya dapat memahami perasaan mas Tama
Konseli            : Jujur aja Bu…. sebenarnya saya itu masih cinta dengan dia.
Konselor          : Mas tama tadi mengatakan benci dan marah, sekarang mas tama
mengatakan masih cinta kepada pacarnya. Tampaknya mas Tama
masih ragu-ragu terhadap perasaan mas Tama itu sendiri.
Konseli            : iya Bu….
Konselor          : Mas Tama tidak yakin dengan perasaan mas tama, coba
Kemukakan apa yang menyebabkan mas tama ragu ?
Konseli             :jadi bengini Bu, pada mulanya hubungan kami baik-baik saja, namun ketika orang tua saya tidak menyetujui hubungan kami, pacar saya itu mulai berubah sikapnya, dia mulai menjauh dari saya, dan tidak mau lagi jika saya ajak kerumah.
Konselor          : o… ya… lalu
Konseli            : saya waktu itu sempat stres Bu, belajar menjadi terganggu, mau sekolah tidak semangat… akhirnya minggu kemaren saya pergi ke tempat nenek di Bandung untuk menenangkan diri sejenak.
Konselor          : seandainya hal tersebut terjadi pada saya, saya pun akan melakukan hal seperti itu….Coba anda ceritakan secara lebih  rinci lagi, mungkinkah pacar anda itu masih mempunyai perasaan cinta kepada anda ?
Konseli            : ketika saya meminta kejelasan mengenai hal itu, dia mengatakan bahwa memang masih ada rasa cinta. Akan teapi dia malu dengan orang tua saya.. soalnya waktu itu…
Konselor          : Ceritakan semuanya dengan jujur, percayalah kerahasiaan ini akan terjaga baik
Konseli            : Waktu itu saya pernah mengajak dia kerumah, maksud saya ingin
 mengenalkan dia kepada orang tua saya, ketika itu juga orang tua
 saya,, marah kepada saya..
Konselor          : Bisakah anda peragakan bagaimana sikap dan kata-kata ayah anda
 ketika memarahi anda ?
Konseli            : ”Tama ini siapa? Kok memakai baju yang belum jadi, dan rok nya malah dipotong separuh, ni teman kamu apa tama, kok gak sopan amat”. Seketika itu juga muka dia merah bergitu mendengar perkataan bapak saya itu pal, mungkin dia malu, karena memang pakaian dia waktu itu terbuka… yah Ibu tau lah namanya anak muda jaman sekarang…
Konselor          : terus….
Konseli            : sejak saat itulah dia tidak mau lagi saya ajak kerumah untuk silaturahmi dengan bapak saya. Dan dia juga mulai menjauhi saya….
Konselor           : dari beberapa pembicaraan kita dapat simpulan bahwa ; pertama, anda masih cinta, betul ? kedua, anda benci dan marah kepada pacar anda karena dia tidak mau diajak silaturahmi kerumah anda, betul? Ketiga, pacar anda tidak mau kerumah anda karena merasa malu dengan orang tua anda, betul?, keempat, orang tua anda kurang suka dengan cara berpakaian pacar anda, betul ?
Konselor          :Bagaimana menurut pendapat anda, apa yang seharusnya dilakukan pacar anda sehingga dapat membuat orang tua anda senang dan menyetujui hubungan kalian ?
Konseli            : yang saya harapkan dari pacar saya itu, dia mampu merubah cara berpakaiannya, jangan terlalu mendolok, sedikit dirubah supaya bisa menarik simpati orang tua saya.
Konselor          : Pernahkan anda coba mengatakan hal tersebut kepada pacar anda ?
Konseli            : belum Bu… karena saya tidak yakin dapat merubah cara berpakaian dia.
Konselor          : anda mengatakan tidak yakin, apa yang menyebabkan anda ragu?
Konseli            : Pacar saya itu anaknya gaul banget pak, jadi dia gak bakalan mau untuk merubah cara berpakaian yang menurut dia, dia mengikuti bintang idolanya..
Konselor          : ada pepatah mengatakan ”Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semua akan terlihat baik, sebaliknya jika kita melihat sesuatu dengan negatif maka semua yang tampak adalah kejelekan”
Konseli            : Maksud dari pepatah itu apa Bu
Konselor          :Mas tama yakinlah dulu bahwa Pacar Mas tama mau berubah, karena seseorang yang masih cinta pasti bersedia melakukan yang terbaik demi hubungan tersebut. Bukankah dia masih cinta dengan mas tama ?
Konseli            : betul Bu
Konselor          : tampaknya mas tama sudah dapat mengerti apa yang semestinya mas tama lakukan, kapan mas tama akan coba mengataknnya kepada dia ?Maaf siapa nama pacar mas tama itu
Konseli            : namanya Veronika Bu..
Konselor          : terus… kapan mas tama coba mengatakan kepada veronika supaya dia mau berpakaian sederhana ketika bertemu orang tua mas tama?
Konseli            : secepatnya saya akan mengatakan kepada veronika untuk dapat berpakaian dengan sederhana, kalau benar dia masih cinta dengan saya dia harus rela berkorban demi direstuinya hubungan kami.
Konselor          : mudah-mudahan pacar mas tama dapat memahami ini semua, dan hubungan kalian dapat kembali harmonis, dengan begitu mas tama dapat kembali fokus ke belajar dan lebih semangat sekolah lagi.
Konseli            : amin…… terima kasih atas waktu yang Ibu berikan,,, karena sudah jam 09.00 saya mau kembali ke kelas untuk mengikuti ulangan matematika.
Konselor          : iya sama-sama, Ibu juga senang dapat menjadi teman sharing mas tama….. kalau lain kali ada yang perlu dibicarakan kembali,,,, mas tama jangan sungkan-seungkan untuk datang ke ruangan Ibu..
Konseli            : baik Bu… Assalamu’alaikum
Konselor          : wa’alaikumsalam

Skenario Konseling (BK Karier)


Agus termasuk salah satu siswa SMA yang rajin dan berprestasi, sejak kelas X, XI Agus selalau mendapatkan rangking di tiga besar di kelasnya.  Tetapi beberapa bulan ini semenjak naik ke kelas XII, Agus sering bolos, terlambat datang ke sekolah, dan terlambat mengumpulkan tugas, sehingga prestasinya menurun drastis. Agus yang sehari-harinya selalu berpakaian rapi, sekarang terlihat kusut dan acak-acakan. Agus merasa frustasi, putus asa karena orang tuanya lebih menginginkannya untuk melanjutkan ke pesantren, sedangkan dia ingin melanjutkan ke jurusan Informatika di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Rasa putus asa dan frustasi ini yang menyebabkan perubahan perilaku Agus di sekolah. Berikut ini satu sesi dalam proses konseling yang dilakukan guru bimbingan dan konseling dalam menangani masalah yang di alami Agus.

Agus
:
Assalamu’alaikum (mengetuk pintu)

Konselor
:
Wa’alaikumsalam (konselor menghampiri konseli, menjabat tangan, dan membawa konseli memasuki ruangan). Silakan duduk Gus. (Konselor duduk disebelah klien dan posisi badan konselor condong menghadap pada konseli). Senang sekali hari ini bias bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?
Attending
Agus
:
Ya, pak, Alhamdulillah saya baik-baik saja. Ada apa pak saya dipanggil kesini?

Konselor
:
Ada sesuatu yang ingin bapak bicarakan dengan kamu, bapak memperoleh informasi dari guru wali kelasmu kalau kamu mempunyai masalah dengan absensi.

Agus
:
(Agus tertunduk malu, menggaruk-garuk kepalanya, karena merasa bersalah; penampilan Agus tidak seperti biasanya, hari ini bajunya dikeluarkan, memakai gelang, tata rambut yang acak-acakan)

Konselor
:
(Konselor memperhatikan dengan seksama perilaku dan penampilan Agus tersebut; konselor memprediksi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan siswanya ini). Gus, kalau boleh bapak tahu, apa yang menyebabkan kamu sering tidak masuk sekolah?    
Observing
Agus
:
“mmmhhhh” (Agus menunjukkan ekspresi kebingungan untuk menjawab)

Konselor
:
Tidak apa-apa, Gus. Ceritakan saja pada bapak apa yang terjadi sebenarnya? Keberadaan bapak disini untuk membantumu, apabila ada masalah nanti kita cari jalan keluarnya bersama. (Konselor tersenyum dan memegang pundak Agus; untuk meyakinkan Agus untuk mulai bercerita)
Attending
Agus
:
Baik pak, pak saya merasa bosan berada di sekolah

Konselor
:
(Konselor diam sejenak) lalu?

Agus
:
Saya tidak semangat lagi untuk belajar pak.

Konselor
:
Mmmh, Kamu merasa bosan dan kurang semangat. kenapa Gus?
Responding to feeling
Agus
:
Kalau lulus SMA nanti orang tua saya menginginkan saya masuk pesantren pak.

Konselor
:
Jadi, kamu kurang semangat belajar dan merasa bosan di sekolah karena orang tua kamu menyuruhmu masuk pesantren.
Responding to content
Agus
:
Benar pak.

Konselor
:
Gus, kalau boleh bapak tahu, setelah lulus nanti kamu ingin melanjutkan kemana?

Agus
:
Saya ingin melanjutkan sekolah ke jurusan informatika pak, saya tertarik dengan komputer.

Konselor
:
Baik gus, kamu merasa sedih dan kecewa karena keinginan orang tuamu tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan.
Responding to meaning
Agus
:
Ya pak. Saya merasa kecewa, frustasi, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan orangtua

Konselor
:
Orangtua mu sudah mengetahui keinginanmu ini?

Agus
:
Belum pak, saya ragu-ragu dan takut untuk membicarakannya, lagi pula bapak dan ibu saya terlalu sibuk untuk hal seperti ini.

Konselor
:
Begini Gus, kamu tahukan orangtua mu pasti ingin yang terbaik untuk kamu. Bapak yakin mereka pasti mau mendengarkan keinginanmu juga.

Agus
:
Tapi pak, saya takut mengecewakan mereka, kalau mereka tahu saya tidak mau masuk pesantren nanti, mereka pasti akan sangat kecewa. Saya tidak tahan melihat mereka kecewa.

Konselor
:
Jadi kamu akan sangat sedih, jika kamu mengecewakan orang yang kamu sayangi. Apakah benar seperti itu? Tapi di sisilain kamu ingin keinginanmu terpenuhi?
Personalizing meaning
Agus
:
Betul pak.

Konselor
:
Ok kalau begitu, sekarang coba kamu pikirkan sekali lagi. Apakah orang tuamu akan kecewa jika mengetahui kalau anak kesayangannya sering bolos sekolah? Apakah dengan bolos sekolah akan menyelesaikan persoalan?

Agus
:
(Agus tertunduk, menyesali perbuatan yang telah dilakukannnya)

Konselor
:
Kamu merasa frustasi dengan kondisimu saat ini, karena kamu tidak mampu untuk menyampaikan keinginanmu pada orangtua.
Personalizing problems
Agus
:
Betul pak. Jadi apa yang harus saya lakukan pak?

Konselor
:
Gus. Jika melanjutkan ke jurusan informatika ini benar-benar keinginanmu, kamu harus berusaha agar kamu berani berbicara dengan orang tuamu.
Personalizing goal
Agus
:
Baik pak saya akan coba. Tapi bagaimana pak jika orang tua saya tetap dengan keinginannya? Saya akan sangat kecewa, pasti hal ini akan mengganggu konsentrasi dan semangat saya untuk belajar pak.

Konselor
:
Begini Gus. Bapak mengerti dengan kondisimu saat ini. Kamu merasa putus asa, karena apa yang telah kamu lakukan selama ini, tidak akan menghasilkan apa-apa karena kamu tidak mencapai tujuan yang kamu inginkan.
Responding to meaning
Agus
:
Jadi bagaimana pak?

Konselor
:
Gus, yang menjadi masalah bukanlah keinginan orangtuamu yang berbeda, atau karena ketidak mampuanmu untuk berbicara pada orangtuamu, tapi permasalahannya adalah tujuanmu dalam belajar.
Personalizing problem
Agus
:
Maksud bapak?

Konselor
:
Coba pikirkan kembali Gus, apa tujuanmu sekolah? Mengejar cita-cita ataukah mencari ilmu?
Personalizing goal
Agus
:
Lebih tepatnya kita belajar di sekolah untuk mencari ilmu pak.
Defining goal
Konselor
:
Betul Gus, mencari ilmu adalah tujuannya. Nah sekarang bapak Tanya lagi. Mencari ilmu itu untuk apa? 

Agus
:
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita pak.

Konselor
:
Jika setelah menuntut ilmu, tetapi pegetahuan dan wawasanmu masih tetap, tidak menghasilkan apa-apa bagaimana?

Agus
:
Tapi kita sudah mendapat pahala menuntut ilmu pak.

Konselor
:
Nah itu Gus tujuan sebenarnya kamu menuntut ilmu. Mendapat pahala, bernilai ibadah. Coba pertimbangkan ucapan bapak ini, menuntut ilmu itu ibadah dan ibadah itu pada hakikatnya untuk mendapatkan Ridho Alloh. Setuju tidak dengan pendapat bapak?

Agus
:
Iya pak. Terus pak apa hubungannya dengan masalah saya ini. Saya belum mengerti?

Konselor
:
Yang harus kamu perbaiki adalah niat awalmu untuk mencari ilmu. Pada hakikatnya sama dengan tujuan manusia ini hidup yaitu untuk menggapai ridho Alloh. Dan Ridho Alloh itu ada pada ridho kedua orangtua.

Agus
:
Betul pak, tapi saya belum mencapai kesana.

Konselor
:
Betul Gus, bapak sendiri belum mampu. Bapak hanya ingin kamu mempertimbangkan perkataan bapak ini.

Agus
:
Baik pak. Jadi jika orangtua tidak ridho, ridho Alloh pun tidak akan kita dapatkan?

Konselor
:
Ya betul Gus.
Nah sekarang setelah pembicaraan kita ini, kamu mulai membicarakan keinginan ini pada orangtuamu. Silahkan tentukan kira-kira kapan? Dimana waktu yang tepat untuk membicarakannya? Jangan takut untuk memulai.
Developing schedule
Agus
:
Baik pak, saya akan berbicara dengan orangtua saya ketika orangtua saya sedang santai, biasanya hari libur.

Konselor
:
Bagus, dalam kondisi santai mudah-mudahan orangtuamu lebih terbuka menerima pendapat-pendapatmu.

Agus
:
Amin, mudahan-mudahan pak. Pak setelah saya berbicara kepada orangtua, bolehkah saya datang kembali ke Bapak.

Konselor
:
Tentu saja boleh Gus, kamu tidak akan sendirian, bapak juga akan mencoba untuk menghubungi orangtuamu. Supaya mereka pun lebih memahami kondisimu ini.

Agus
:
Baik pak, terima kasih.

Konselor
:
Iya sama-sama, bapak akan lebih senang jika kamu juga menghentikan kebiasaan bolosmu dan kembali ke sekolah sebaai siswa yang rajin.

Agus
:
Baik pak.

Konselor
:
Baik Gus, ada yang masih ingin dibicarakan lagi? Kalau tidak ada silahkan kamu boleh kembali ke kelasmu
Closing
Agus
:
Tidak ada pak, terima kasih, saya permisi masuk ke kelas pak. Assalamu’alaikum. (bersalaman dengan konselor)

Konselor
:
Wa’alaikumsalam (Konselor bersalaman dengan Agus, tersenyum dan mengantar Agus sampai pintu.