Rabu, 04 September 2013

KONSELING BEHAVIORISTIK


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………...1
BAB I: PENDAHULUAN
Latar Belakang……………………………………………………………………………….2
Tujuan………………………………………………………………………………………..2
Manfaat……………………………………………………………………………………....3
BAB II: PEMBAHASAN
Konsep Pokok………………………………………………………………………………..4
Proses Konseling……………………………………………………………………………..5
Metode-Metode……………………………………………………………………………...7
Teknik-Teknik………………………………………………………………………………..8
Kritik…………………………………………………………………………………………9
BAB III: PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………………………….10
BAB I
PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang
            Saat ini kita hidup dalam dunia yang kompleks, sibuk, dan terus berubah. Hal tersebut membuat beberapa masalah, khususnya dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan masalah-masalah yang muncul banyak dialami oleh para siswa, misalnya masalah belajar, masalah pribadi siswa, maupun masalah psikologi siswa. Hal tersebut membuat beberapa masalah yang dapat menggangu dalam proses pendidikan.
            Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam dunia pendidikan, salah satu di antaranya adalah dengan mencari dan memberikan solusi pada anak itu sendiri atau bisa disebut konseling. Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan tiap sekolah bahkan tiap anak berbeda-beda, oleh katena itu dibutuhkan solusi yang berbeda pula sehingga beberapa teori-teori tentang konseling ini bermunculan. Dalam melakukan konseling tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, maka dari itu muncul istilah konselor. Konselor memberi solusi pada masalah-masalah yang diharapkan dapat membantu dalam dunia pendidikan.
            Tapi konselor pun harus mengerti mengenai teori dalam bimbingan konseling, hal ini agar konselor mampu untuk mengatasi masalah dengan cara yang tepat yang sesuai dengan teori konseling.
            Maka dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mengenai konseling behavioral. Diharapkan dengan makalah ini, maka pembaca akan mampu mengerti, memahami, dan mengaplikasikan apa yang ada dalam makalah ini.

2.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.      Sebagai bahan ajar bagi para calon konselor.
2.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Konseling.


2
3.     Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1.      Diperoleh pemahaman yang mendalam tentang Konseling Behavioristik.
2.      Sebagai panduan dalam membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi konseli.

BAB II
PEMBAHASAN

1.     Konsep Pokok
            Tokoh dalam teori ini antara lain John D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosford, Bandura, Wolpe dan sebagainya. Konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.
            Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 188) member ciri konseling behavioral sebagai berikut:
1)      Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dank arena itu dapat diubah.
2)      Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan. Prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan mengubah lingkungan.
3)      Prinsip-prinsip belajar special seperti “reinforcement” dan “social Modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
4)      Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus di luar wawancara prosedur-prosedur konseling.
5)      Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.
                        Hal yang mendasar dalam konseling behavioral adalah prinsip penguatan (reinforcement) sebagai suatu kreasi dalam upaya memperkuat atau mendukung suatu perilaku yang dikehendaki. Konsep penguatan ini berasal dari percobaan Pavlov (Teori Clasical Conditioning), dan Skinner (Teori Instrumental Conditioning). Ada tiga macam hal yang dapat memberi penguatan yaitu Positive reinvorcer, negative reinvorcer, and no consequence and neutral stimuli.

4
                        Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macam-macam penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.

2.     Proses Konseling
            Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190), Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.
            Tujuan konseling dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: memperbaiki perilaku salah sesuai, belajar tentang proses pembuatan keputusan, dan pencegahan timbulnya masalah.
            Menurut aliran teori-teori belajar Behavioristik, manusia belajar dengan berbagai cara, antara lain Belajar Signal menurut Konsepsi Pavlov, Belajar melalui Peneguhan atau Penguatan (Reinforcement) menurut konsepsi Skinner, dan Belajar dari Model menurut konsepsi Bandura. Dalam semua konsep itu dipegang paradigm Stimulus-Respon (S - R). Dalam konsepsi Pavlov dan Skinner, reaksi mengikuti rangsangan secara spontan tanpa melalui suatu proses kognitif lebih dahulu seperti mengadakan persepsi dan berpikir, ini juga terjadi pada manusia. Konsepsi ketiga menerima kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri subjek yang bereaksi terhadap suatu rangsangan, seperti berpikir mengenai reaksi yang sebaliknya diberikan. Konsepsi-konsepsi yang lain memberikan banyak perhatian pada apa yang terjadi dalam diri subjek sesudah menerima rangsangan dan sebelum memberikan reaksi, lebih-lebih pada manusia yang belajar. Dalam hal ini diikuti paradigm S-r-R, dimana r adalah tanggapan kognitif terhadap S sebelum memberikan R. Tanggapan kognitif itu tidak dapat langsung diamati karena berlangsung dalam batin, namun ikut menentukan R yang diberikan.       

5
            Dollard dan Miller membedakan antara reaksi-reaksi yang tidak langsung, tetapi berfungsi sebagai perantara (mediating response) dan berpengaruh terhadap reaksi yang akhirnya diberikan. Reaksi yang tidak langsung itu bersifat internal dan berupa reaksi pikiran (r), yang mungkin disertai pembahasan atau kata-kata yang diucapkan kepada diri sendiri. Dengan demikian, terdapat kemungkinan orang mengubah perilakunya (R) yang sampai sekarang ini, dengan berpikir dahulu (r) tentang reaksinya (perilakunya) yang seharusnya terhadap rangsangan tertentu.
Dalam rangka pendekatan Behavioristik dalam konseling, rangkaian S-R dikonsepsikan sebagai rangkaian Antecedent-Behavior-Consequence, yang disebut model ABC. Antecedent adalah kejadian atau kejadian-kejadian yang mendahului Bahavior. Consequence adalan efek-efek yang mengikuti atau berlangsung sesudah Behavior. Perilaku (Behavior) sama dengan yang di atas disebut reaksi (Response). Kejadian atau pengalaman yang berlangsung sebelum perilaku muncul (Antecedent), sama dengan yang di atas disebut rangsangan (Stimulus). Efek yang timbul sesudah perilaku (Consequence) sama dengan yang dalam konsepsi Skinner disebut peneguhan atau penguatan (Reinforcement), yaitu efek yang memperbesar kemungkinan bahwa perilaku yang sama akan muncul kembali pada lain kesempatan bila rangsangan yang sama diberikan.
            Setelah diadakan analisis kasus, konselor akan membantu konseli untuk mencari jalan keluar dari asalah yang dihadapi sekarang, dengan mengembangkan suatu cara bertingkah laku yang lebih sesuai. Dalam hal ini dapat ditempuh dua jalan atau diterapkan dua siasat, yaitu:
a)      Mengubah respon/reaksi terbuka (R) atau perilaku (B) secara langsung, tanpa mengusahakan perubahan dalam respon/reaksi tertutup (r) atau cara berpikir lebih dahulu.
b)      Mengubah reson/reaksi tertutup (r) lebih dahulu, lebih-lebih tanggapan pikiran dalam batin seseorang; sebagai akibat respon/reaksi terbuka (R) akan berubah pula, namun tidak secara langsung.
                        Urutan pemilihan dan penetapan tujuan yang digambarkan oleh Cormier dan Cormier (Corey, 1986,178) sebagai salah satu bentuk kerjasama antara konselor dengan klien, adalah:

6
1)      Konselor menjelaskan maksud tujuan.
2)      Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling.
3)      Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien.
4)      Bersama-sama menjajagi apakah tujuan-tujuan itu realistic.
5)      Mereka mendiskusikan kemungkinan manfaat-manfaat tujuan.
6)      Mereka mendiskusikan kemungkinan kerugian0kerugian tujuan.
7)      Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut: untuk melanjutkan konseling, atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referral.


3.     Metode Konseling
            Mengenai metode konseling, Krumboltz mengkategorikan menjadi empat pendekatan, yaitu:
1)      Operant Learning
            Dari pendekatan operant learning hal yang penting adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. Konselor hendaknya dapat memilih tindakannya agar dapat memberikan penguatan terhadap perilaku klien. Dalam penguatan ini ada empat hal yang perlu diperhatikan yaitu (1). Penguatan  yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien, (2). Penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematis, (3). Konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan, (4). Konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan.
2)      Unitative Learning atau Social Modeling
            Metode ini diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien. Model-model perilaku adaptif dapat dalam bentuk rekaman, pengajaran berprogram, video, film, orang atau biografi.

7
Model-model yang dipilih hendaknya merupakan suatu subjek yang berprestise, kompeten, dapat diketahui, atraktif (menarik), dan berpengaruh. Semua akan berpengaruh kepada klien apabila memiliki kemiripan dengan klien.
3)      Cognitive Learning
            Metode cognitive learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dengan klien, dan bermain peranan. Metode ini lebih banyak menekankan aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membantu klien memecahkan masalahnya.
4)      Emotional Learning
            Metode emotional learning atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan. Pelaksanaannya dilakukan dalam situasi rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama suatu rangsangan lain yang menyenangkan. Dengan cara itu maka kecemasan dapat berkurang dan akhirnya dapat dihilangkan.

4.     Teknik-Teknik
            Adapun teknik-teknik yang biasa digunakan dalam keempat pendekatan metode diatas antara lain; desentisisasi sistematis, metode latihan rileks, teknik-teknik penguatan, pembuatan model restructuring kognitif, penghentian pikiran, latihan ketegasan, latihan keterampilan social, program manajemen diri, pengulangan perilaku, latihan khusus, teknik-teknik terapi multimodal, tugas-tugas pekerjaan rumah.
            Penggunaan teknik-teknik oleh konselor behaviorial tergantung kepada berbagai variable, antara lain: (1). Kelebihan dan perilaku klien, (2). Macam masalah klien yang memerlukan bantuan, (3). Macam dan nilai penguatan yang tersedia dalam lingkungan klien, (4). Orang lain yang mempunyai arti tertentu bagi kehidupan klien dan dapat membantu konselor dalam meningkatkan perubahan perilaku yang dikehendaki.


5.     Kritik
Beberapa kritik terhadap konseling behavioral adalah antara lain:
1.      Konseling behavioral bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulative, dan mengabaikan hubungan antarpribadi.
2.      Konseling behavioral lebih terkonsentrasi pada teknik.
3.      Meskipun konselor behavioral menegaskan bahwa setiap klien adalah unik dan menuntut perlakuan yang unik dan spesifik, akan tetapi masalah satu klien sering sama dengan klien lain dan oleh karena itu tidak menuntut suatu strategi konseling yang unik.
4.      Konstruk belajar yang dikembangkan dan digunakan oleh konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai suatu hipotesis yang harus dites.
5.      Perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk perilaku yang lain.

BAB III
PENUTUP

1.     Kesimpulan
            Teori belajar behaviorisme mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Oleh karena itu, pendekatan behavioristik dalam konseling menganal banyak variasi dalam prosedur, metode, dan teknik yang diterapkan. Meskipun demikian, pelopor-pelopor pendekatan behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan, karena itu, dapat diubah dengan belajar baru. Dengan demikian, proses konseling pada dasarnya pun dipandang sebagai suatu proses belajar.

STUDI KASUS

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….1
BAB 1: Pendahuluan……………………………………………………………………2
BAB 2: Pembahasan
Pengertian Studi Kasus…………………………………………………………………3
Tujuan Studi Kasus……………………………………………………………………...3
Sasaran Studi Kasus…………………………………………………………………….3
Ciri-Ciri Studi Kasus……………………………………………………………………..4
Data yang Dikumpulkan Dalam Studi Kasus………………………………………...5
Langkah-Langkah Studi Kasus………………………………………………………...5
Bagian-Bagian Studi Kasus…………………………………………………………….7
BAB III: Penutup………………………………………………………………………….9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………..10
BAB I
PENDAHULUAN

1.   Latar Belakang
            Pemahaman individu merupakan merupakan suatu cara untuk memahami, menilai, menaksir karakteristik potensi dan atau masalah-masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelompok individu. Pemahaman individu dapat berupa teknik tes maupun teknik non tes. Hakekat BK sendiri adalah mencapai kemandirian peserta didik. Strategi yang digunakan harusnya sesuai dengan keadaan individu yang dimaksud (karakteristik dan permasalah oleh klien). Data yang didapat digunakan untuk dasar pemberian layanan, sehingga hasil yang dicapai adalah perubahan tingkah laku konseli.
            Untuk mengetahui kondisi dan keadaan klien banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu Studi Kasus (Case Study). Dalam perkembangannya, oleh karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi klien dan semakin majunya perkembangan tehnik-tehnik pendukung seperti analisis, tehnik identifikasi masalah, interpretasi, dan sebagainya, metode studi kasus juga terus diperbarui.


2.   Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.    Sebagai dasar untuk menentukan jenis bantuan yang diberikan.
2.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum pemahaman individu teknik non tes.

3.   Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
1.    Diperoleh pemahaman yang mendalam tentang kepribadian dan permasalah klien.
2.    Dapat menjadi bahan acuan dalam mata kuliah praktikum pemahaman individu teknik non tes.


2
BAB II
PEMBAHASAN

1.   Pengertian Studi Kasus
            Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seseorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik (I. Djumhur, 1985). Studi kasus adalah suatu meode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik (WS. Winkel, 1995). Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integratif dan komprehensif. Integratif artinya menggunakan berbagai tehnik pendekatan dan bersifat komprehensif.artinya data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ktut Sukardi, 1983).
            Studi kasus merupakan tehnik yang paling tepat digunakan dalam layanan Bimbingan dan Konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam tehnik dan alat untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.

2.   Tujuan Studi Kasus
            Studi kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang mendalam, konselor dapat membantu siswa agar mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuaian yang baik pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan dari siswa tersebut.

3.   Sasaran Studi Kasus
            Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukkan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

3
4.   Ciri-Ciri Studi Kasus
Metode studi kasus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)    Mengumpulkan data yang lengkap: studi kasus memerlukan data yang komprehensif dari setiap aspek kehidupan siswa. Data yang lengkap sangat menentukan identifikasi dan analisis masalah. Apabila data tidak lengkap dan terjadi kesalahan dalam identifikasi dan analisis masalah maka kemungkinan besar terjadi salah penanganan (treatment) dan bahkan dapat terjadi malpraktek.
2)    Bersifat rahasia: studi kasus tidak dapat dipisahkan dari BK, maka salah satu kode etik dalam konseling yaitu asas kerahasiaan. Asas kerahasiaan sangat penting untuk menjaga kepercayaan konseli. Disisi lain, sangat mungkin informasi yang diperoleh belum pasti apa adanya, maka sangat berbahaya apabila informasi tersebut tersebar dan timbul salah persepsi kepada individu dari berbagai pihak. Dan hendaknya hanya konselor yang menangani dan pihak-pihak yang dianggap perlu mengetahui keadaan konseli sebenarnya.
3)    Dilakukan secara terus-menerus (kontinyu): studi kasus juga merupakan proses memahami perkembangan siswa, maka perlu dilakukan pemahaman secara terus-menerus sehingga terbentuk gambaran individu yang obyektif dalam berbagai segi kehidupan individu yang berpengaruh pada masalah yang dihadapinya.
4)    Pengumpulan data dilakukan secara ilmiah: studi kasus harus bisa dipertanggung jawabkan secara rasional dan obyektif. Maka pengumpulan data juga harus dilakukan secara ilmiah dengan mengacu pada kaedah-kaedah yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran dan validitasnya.
5)    Data yang diperoleh dari berbagai pihak: data yang dikumpulkan dalam studi kasus haruslah relevan dengan masalah yang duhadapi siswa. Pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah didapatkan dari berbagai pihak yang berhubungan dengan siswa tersebut. Untuk memilih pihak sumber informasi perlu mengingat hubungan orang tersebut apakah dekat/ mempengaruhi dalam permasalahan siswa, mempunyai informasi yang dapat dipertanggung jawabkan yang bukan berdasarkan gossip, rumor atau kabar burung, mempunyai informasi yang relevan dengan permasalahan individu.
                        Dalam situasi konkrit di Indonesia, tidak mungkin menggunakan semua alat pengumpul data dan semua alat penyimpan data secara serentak, karena dikebanyakan sekolah pelayanan Bimbingan dan Konseling baru mulai dikembangkan, tidak mungkin dan tidak bijaksana untuk memulai menggunakan alat-alat itu sekaligus semua.

4
Maka perlu ditentukan urutan prioritas, yaitu:
1)    Angket, Wawancara informatif, Buku rapor.
2)    Home visit, Testing, Rating skale.
3)    Otobiografi, Sosiometri, Studi kasus.

5.   Data yang Dikumpulkan Dalam Studi Kasus
            Studi kasus merupakan teknik yang digunakan untuk memperoleh pemahaman diri klien yang dijadikan sebagai kasus. Dalam pelaksanaan studi kasus, konselor harus mencari data yang berkaitan dengan diri klien.
Data yang dikumpulkan dalam studi kasus antara lain:
1)    Identitas diri.
2)    Latar belakang keluarga.
3)    Lingkungan hidup (Sosial-Ekonomi).
4)    Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
5)    Riwayat kesehatan.
6)    Testing dalam berbagai bidang.
7)    Riwayat pendidikan sekolah.
8)    Pola kesusilaan dan keyakinan hidup.
9)    Riwayat pelanggaran hidup.
10) Penggunaan waktu luang.
11) Minat dan cita-cita hidup.
12) Pergaulan dengan teman-teman.

6.   Langkah-Langkah Studi kasus
            Pelaksanaan studi kasus oleh konselor harus berdasar pada prosedur atau langkah-langkah yang ada. Secara garis besar langkah-langkah studi kasus sebagai berikut: 
a)    Perencanaan. Dalam perencanaan terdapat langkah-langkah sebagai berikut, yaitu:
1)    Mengenali gejala. Pertama-tama mengamati adanya suatu gejala, gejala itu mungkin ditemukan atau diperoleh dengan beberapa cara:
a.    Guru pembimbing menemui sendiri gejala pada siswa yang memiliki masalah
b.    Guru mata pelajaran memberikan informasi

5
c.    Adanya siswa yang bermasalah kepada guru pembimbing
d.    Wali kelas meminta bantuan guru pembimbing untuk menangani seorang siswa yang bermasalah berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak lain, seperti siswa, para guru, ataupun pihak tata usaha.
2)    Membuat deskripsi kasus. Setelah gejala itu dipahami oleh guru pembimbing, kemudian dibuatkan suatu deskripsi kasusnya secara objektif, sederhana, tetapi cukup jelas.
3)    Setelah deskripsinya dibuat, dipelajari lebih lanjut aspek ataupun bidang-bidang masalah yang mungkin dapat ditemukan dalam deskripsi itu. Kemudian ditentukan jenis masalahnya, apakah menyangkut masalah pribadi, sosial, belajar atau karir.
4)    Jenis masalah yang telah dikelompokkan itu dijabarkan dengan cara mengembnagkan ide-ide atau konsep-konsep menjadi lebih rinci, agar lebih mudah memahami permasalahannya.
5)    Adanya jabaran masalah yang lebih terinci dapat membantu guru pembimbing untuk membuat perkiraan kemungkianan sumber penyebab masalah.
6)    Perkiraan kemungkinaan sumber penyebab membantu mengetahui jenis informasi yang dikumpulkan, sumber informasi yang perlu dikumpulkan, dan teknik atau alat yang digunakan dalam mengumpulkan informasi.
b)    Pengumpulan data. Terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data, tetapi yang lebih sering digunakan dalam studi kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Setelah data terkumpul konselor dapat mulai mengorgansasi dan mengklasifikasi data menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola.
c)    Penggunaan dan pengolahan data. Penggunaan dan pengolahan data merupakan usaha pengolahan data untuk merangkum, menggolongkan, dan menghubungkan data yang diperoleh dalam tahap pengumpulan data. Dengan demikian dapat menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri anak, rumusan ini bersifat ringkas dan padat.
d)    Sintesa dan interpretasi data. Setelah mengolah data selanjutnya data studi kasus diinterpretasikan dengan case conference antara petugas yang melakukan studi kasus, dalam case conference terlibat beberapa petugas khusus yang mempelajari setipa kasus dari individu yang bermasalah. Rumusan ini dilakukan melalui pengambilan atau pengambilan kesimpulan yang logis.


e)    Membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan (treatment). Merupakan langkah yang ditempuh untuk menetapkan teknik atau bantuan yang diberikan kepada siswa yang bermasalah serta memprediksi kemungkinan yang akan timbul oleh siswa sehubungan dengan masalah yang sedang dialami. Berdasarkan hasil case conference disusun suatu rekomendasi yang berwujud saran-saran, treatment (perlakuan) yang perlu dilakukan dan selanjutnya secara terus menerus diikuti dan dicatat setiap perubahan atau perkembangan yang terjadi pada siswa yang bersangkutan.
f)     Evaluasi dan tindaklanjut (follow up). Kegiatan ini dilakukan setelah melakukan treatment atau membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan. Untuk tindak lanjut bisa dilakukan oleh pengajar sendiri, guru BK, ataupun dirujuk dan di alihtangankan kepada pihak lain yang lebih berkompeten maupun dari oarang tua siswa itu sendiri.
7.   Bagian-Bagian Studi Kasus
Studi kasus sebagai metode untuk mengadakan persiapan konseling dapat kita lihat adanya bermacam-macam bagian, yaitu:
1)    Data identitas (Data pengenal).
2)    Tanda-tanda atau gejala yang Nampak.
3)    Data-data sekitar klien:
a)    Latar belakang keluarga (family background), antara lain:
·         Lingkungan rumah.
·         Bagaimana hubungan antara anggota keluarga.
·         Disiplin dalam rumah.
·         Status perekonomian keluarga.
·         Bagaimana sikap orang tua terhadap anak, dan sebaliknya.
b)    Latar belakang jasmani dan kesehatan anak, antara lain:
·         Kesehatan anak pada umumnya.
·         Ciri-ciri jasmani.
·         Keadaan alat indera pada umumnya.
·         Keadaan physical defect (jika ada).
c)    Data mengenai segi pendidikannya:
·         Hasil belajar (record) di sekolah.
·         Kemajuan dan kemunduran di sekolah.
·         Kemampuan mengikuti pelajaran, dsb.
d)    Sosial Behavior dan minatnya:
·         Hobinya.
·         Hubungan sosialnya.
·         Kepercayaan pada diri sendiri.

7
·         Inisiatifnya, dsb.
e)    Data psycho test:
·         Perhatiannya.
·         Bakatnya.
·         Achievementnya, dsb

BAB III
PENUTUP

1.   Kesimpulan
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seseorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. Dalam makalah ini juga diterangkan Tujuan, Sasaran, Ciri-ciri, Data yang dikumpulkan, Langkah-langkah serta Bagian-bagian dalam studi kasus.       Penting bagi calon konselor untuk mempelajari materi studi kasus karena dalam melaksanakan layanan BK, konselor perlu memiliki data-data yang komprehensif dan konkrit untuk membantu klien. Untuk itu konselor harus memahami bagaimana cara memeproleh data-data tersebut. Dengan studi kasus merupakan salah satu metode yang paling tepat dalam layanan Bimbingan dan Konseling.

DAFTAR PUSTAKA


Hasyim, Moch. Yusuf. 2012. Pemahaman Individu. Yogyakarta: Teras

Prayitno, dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Agung Nugroho, Obed. 2008. “Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling” (online),(http://wimamadiun.com/obedan/wp-content/uploads/2008/03/STUDI%20KASUS.pdf, diakses tanggal :7Maret 2011)